planet kecilku di luar sana
aku sering mengira-ngira:

apa di sana musim salju serupa
musim semi yang tak kelihatan
bisa bikin seseorang rentangkan lengan
dan melepas tawa
meski ketika tengadah
ada bulan muram memandang dingin

apa di sana musim gugur
seperti apa adanya
bisa buat banyak orang mengerti
bunga jatuh bukan ditipu waktu
tapi karena tak ada tangan
menadah padanya

apa di sana juga banyak penyair
bilang: kadang sekotak kegelapan
juga adalah hadiah?
apa kita bicara tentang puisi yang sama?
dan apa karenanya, perlu seumur hidupmu
belajar tentang semua?

Jakarta, 20 Mei 2016
Selamat Mengulang Kelahiran, Gy…

Iklan

adalah memeram sebiji takdir    dari sebesar titik hitam         sampai sebesar nganga lobang     lalu diam

adalah melihat sulitnya         rumput tegak melawan angin      tahu cuaca bisa jadi dadu           yang tak hati-hati menggelinding tapi diam

apa kau merasa sesuci bayi       yang ditemukan pada sebuah kuil   lalu dipiara untuk menahan
sedikit lebih lama kejatuhan aib?tak sadar nasib bisa bergerak secepat tanduk bekicot kala dikejutkan cuaca?

mengapa cuma membakar gambar
tanpa hapus tanggal mau pun
ingatan?

atau kaubutuh negatif yang lain,
monsterku?

Jakarta,
Pada sebuah awal 2015.

… dan bahwa apa yang terucap
akan menenggelamkan apa,
sebuah jalan baru atau buntu,
berpaling atau terus tatap,
terbang atau tetap hinggap

ah, sungguh memecahkan
sebutir telur dengan dingin
tak seremeh keinginan perempuan
untuk dicintai secara membabi-buta
atau kau punya dugaan
untuk itu kau ada

butuh alasan yang lain?

Jakarta,
kala tanggal tak lagi penting
2014

untuk dhamapada @belatibiru

aku belum selesai
terlampau kuat kadang
menenggelamkan
kesadaran, sajak-sajak tak bernyawa
diselamatkan anjing geladak

merayap maju seperti
laba-laba berlagak anggun
mereka bergerak dan berkenan
pada bagian tegang

meski tak ada bagian
yang benar-benar tengah
tak ada yang dapat
dibagi utuh

kuil suci, berhala gelisah
bahkan bulan pun
kalau kau mau
akan menusuk malam
pembunuhan jadi sangat biasa
seperti cuaca panas

tak juga kita temukan perekat
yang bisa satukan jasad
dan nyawa atau bumi dan maaf
di khatulistiwa

aku menunggu bau tajam pisau
dan sirih yang diludahkan
aku menunggu ceritamu
untuk dikisahkan lagi

sekarang waktu sedang
menghitung mundur sampai
ke sebuah akhir
dan sebuah akhir perlu angka nol

:batinku bergetar seperti
puding setengah jadi
menunggunya

Jakarta, 31 Oktober 2013

setelah semua ditawarkan
hujan ~ hutan ~ perasaan bersalah
ia masih juga menunggu seseorang kesampingkan langit dan meski tak semua                                ternamai sempurna                           ia masih juga menunggu                       kepak sayap burung hantu memangsa dan termangsa     malam buta

namun langit hanyalah langit       tak lebih                                                dan perempuan kalender butuh                                       petanda atau nama bagi  pembunuh lain untuk sebuah    mati suri                          

kejatuhan demi kejatuhan         bukanlah alasan                                ah, demikian bijak ucapan

seandainya saja ada yang mengerti jerat dengan kenur berkail
yang lebih lepas dari tersesat           atau pahami: jangan pergi          bisa punya arti lain         

mungkin usia bisa mencabut taringnya dan kantong racun dengan kobra yang diam bergelung         mampu disimpannya               

sampai daratan dan air laut surut   sampai ia punya tanda tanya   penutup                                            atau setidaknya sampai ia mengerti: untuk sebuah penaklukan yang berhasil,                                               apa yang terjadi setelahnya       tidak lagi mengejutkan

Jakarta, 12 Oktober 2013

20130724-140709.jpg

Untuk: Hyde Asmarasastra

tadi sudah kutulis puisi
pelan seseorang menjelma dirimu
kompas, bunga-bunga kapas beterbangan
pada selembar kertas
peragu yang tak mau percaya
tebal kabut ringan perasaan
jadi pilihan, tampaknya acak
karena giliran dadu

ada kata mundur dari kebenaran
puisi jadi burung bulbul bohongan
tiga ranting kering
menyeberangi sungai
memilih antara benar dan palsu
seribu satu napas, separuhnya
kesakitan yang dingin
seribu satu jalan buntu seperti

bunuh diri yang terjadi
pada tanggal yang salah

tadi sebenarnya sudah
kutulis sebuah puisi
sebelum seorang murid
menyapa gurunya
segerombol serangga mendekati
gerbang
kata ~ racun ular ketam tebu

: siang jadi batu

Jakarta, 28 Juni 2013

kau mungkin bukan vronsky tapi aku setengah anna
musim dingin tak selalu terkutuk
seperti desember saat kau mengangankan kamera
mata kelammu mengintai lewat lensa dan dunia
menjadi noktah kecil seketika
beri aku waktu dua minggu, katamu, dan kita akan tahu
pada siapakah musim menampakkan wajahnya
tapi ini tak sesederhana kau bahagia ia bahagia
sebab kebahagiaan dan yang berumur panjang
adalah perangkap

apa yang ditakuti dari seseorang yang tidak melompat
dari gunung, bagaimana mungkin yang tertawan
mempertahankan keharusan, tidakkah yang meringkuk
gemetar harus segera berakhir, apakah yang tenang
sudah terkendali: seperti kolase tak beraturan
dari mengapa mesti memilih bila kita punya rasa
yang sama besarnya, sebelum cinta menyerah
pada rel kereta

aku menyesali hati yang terliarkan sepoi angin
hal-hal yang kita lakukan sambil telanjang
puisi-puisi yang terbuang
jurang-jurang suram dalam kegelapan
di hadapan keputusasaan begitu menggoda
sementara takut kehilangan adalah ngarai misterius
setengah terbuka lalu seketika menutup

sebuah ufo di langit dan ciuman ringan
penyesalan melengang ringan pada akhir
penantian yang seakan
empat puluh delapan pengampunan
tak selalu menang melawan dua puluh enam candaan
meski telah kita sebut ulang mantra

anna, apakah langkahmu ringan saat itu?
yang terhempas ~ apakah selalu menghantam

Jakarta, 30 Maret 2013
#tsl